Tampilkan postingan dengan label Hal Dasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hal Dasar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Februari 2019

Berapa Lama Waktu Yang Dibutuhkan Untuk Menjadi Milyarder?

Berapa Lama Waktu Yang Dibutuhkan Untuk Menjadi Milyarder?

Halo teman-teman. Saya kembali lagi menulis blog ini setelah sekian lama tidak aktif belajar tentang investasi saham karena saya fokus menyelesaikan masalah dan belajar ilmu lain di luar ilmu tentang investasi saham. Salah satunya saya belajar dari kesalahan saya dalam membangun bisnis riil. Mungkin bisa dimaklumi saya melakukan banyak kesalahan ketika pertama kali membangun bisnis. Tapi sebenarnya kesalahan-kesalahan tersebut lebih disebabkan oleh pribadi saya yang kurang matang dan saya menyadari hal itu. Makanya saya selama beberapa bulan terakhir menghabiskan waktu untuk mengalahkan diri sendiri. Karena sebenarnya kita hidup dalam sebuah permainan di mana musuh terberat adalah diri kita sendiri.

Kali ini saya akan membahas tentang jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan uang 1 miliyar rupiah. Saya membahas ini karena beberapa minggu yang lalu saya memikirkan kembali tujuan finansial saya dan untuk membuatnya menjadi sederhana, saya ambil angka 1 miliyar. Jika kita mencapai 1 miliyar berarti kita sudah bisa disebut sebagai 'miliyarder'. Apakah angka ini terlalu besar atau terlalu kecil untuk masing-masing orang tentu berbeda, tergantung dari jumlah kekayaan masing-masing orang saat ini. Untuk saya pribadi angka ini merupakan angka yang sangat besar yang belum pernah saya liat secara langsung dengan mata kepala saya sendiri. 

Artikel ini sumbernya adalah dari curhatan pribadi saya yang saya tulis di website penzu.com. Website itu merupakan website untuk menulis diary secara online. Saya ingin bagikan ini karena mungkin bisa menjadi informasi yang bermanfaat untuk teman-teman sekalian. Saya menulisnya dengan bahasa daeraah saya jadi mohon dimaklumi ya.

Langsung saja. Selamat membaca.

Oke, jadi gw udah nemu angka nilai goals secara spesifik. Sekarang pertanyaannya adalah tentang waktu. Berapa lama untuk mencapai tujuan tersebut?
Untuk mengetahui berapa lama, kita hitung dulu berapa pendapatan rata-rata. Biar lebih enak, gw pikir mending ambil dari angka pendapatan per kapita Indonesia tahun 2018. PDB per kapita tahun 2018 adalah sebesar 56 juta per tahun. Yang artinya itu sebesar 4,6 juta per bulan. Kalo itu adalah pendapatan bersih, berarti dengan 56 juta per tahun butuh waktu sekitar 18 tahun untuk mengumpulkan uang sebanyak 1 miliyar. Tapi sayangnya 4,6 juta per bulan itu harus dipotong dulu dengan biaya hidup dan sebagainya. Berarti kita harus potong biaya hidup dulu baru ketemu pendapatan bersihnya berapa. Baru abis itu itung berapa lama waktu untuk ngumpulin uang 1 miliyar dari pendapatan bersih itu. 
Begini rincian biaya hidup dari perhitungan moneysmart.id :
  1. Tempat tinggal : Rp 1,5 juta
  2. Konsumsi 3x sehari : Rp 20 ribu x 3 x 30 hari = 1,8 juta
  3. Transportasi : Rp 10 ribu x 2 x 22 hari kerja = Rp 440 ribu
  4. Estimasi biaya hiburan : Rp 50 ribu (1 x nonton) + Rp 250 ribu (2 x ngemall) + Rp 160 ribu (3 x ngopi cantik) + Rp 150 ribu (pulsa) = Rp 610 ribu
Total: Butuh setidaknya Rp 4,35 juta per bulan untuk hidup di Jakarta.
Jika dengan menggunakan rincian biaya tersebut, berarti dari 4,6 juta, tersisa 250.000 rupiah untuk ditabung per bulan dan 3 juta rupiah per tahun. Itu berarti butuh waktu 333 tahun untuk mengumpulkan 1 miliyar rupiah.
Tapi, itu kalo uangnya hanya ditabung. Beda lagi kalo uangnya diinvestasikan di saham. Kalo dengan alokasi 250.000 per bulan dan apabila kita berhasil mendapatkan return 20% per tahun secara konsisten, maka butuh waktu 25 tahun untuk mencapai angka 1 miliyar rupiah. Dan jika return yang dihasilkan itu sebesar 10% per tahun, maka waktu yang dibutuhkan adalah 38 tahun.
 Kalo mau lebih cepat lagi ada 3 cara. Yaitu :
1. Meningkatkan penghasilan per bulan
2. Mengurangi biaya-biaya per bulan
3. Meningkatkan return investasi
Sekian artikel kali ini. Semoga bermanfaat. Dan doakan saya semoga saya bisa terus produktif membagikan apa yang saya pelajari tentang investasi saham di blog ini.

Terima kasih.

Sabtu, 25 Agustus 2018

4 Kelompok/Kuadran Sumber Penghasilan (Bagian 1)

Artikel kali ini akan membahas tentang konsep dasar dari buku "The Cashflow Quadrant" karya Robert T. Kiyosaki. Beberapa kali sudah saya sebutkan tentang buku ini di artikel-artikel sebelumnya. Dan memang buku ini intinya menjelaskan tentang 4 kelompok orang yang dibedakan berdasarkan sumber penghasilannya. Buku ini pula yang membentuk pola pikir saya sehingga saya terobsesi untuk belajar bisnis dan investasi. Maka dari itu saya ingin membagikan apa yang telah saya baca melalui artikel ini. Karena menurut saya ini penting dan siapapun harus memahami tentang ini. Saya hanya akan menyampaikan inti dari bukunya saja yaitu tentang 4 kelompok/kuadran. Kalo anda penasaran ingin membaca lebih detail bagaimana isi buku "The Cashflow Quadrant" langung saja beli bukunya di toko buku.


Membicarakan soal sumber penghasilan sepertinya memang tidak akan ada habisnya. Pastinya semua orang berusaha melakukan yang terbaik untuk mendapatkan penghasilan yang cukup agar bisa hidup sejahtera. Dan Robert T. Kiyosaki membahas soal ini secara mendalam. Mulai dari cerita bagaimana ayahnya mendidik tentang keuangan pada buku "Rich Dad Poor Dad", lalu "The Cashflow Quadrant" yang menjelaskan tentang 4 kelompok orang berdasarkan sumber penghasilan, dan buku lainnya yang dia tulis menjelaskan tentang penghasilan, melek keuangan dan investasi.

Tidak hanya soal bagaimana mendapatkan penghasilan, tapi juga soal bagaimana menggunakan uang dengan bijak. Karena bicara soal pengeluaran, kebutuhan dan keinginan manusia itu tidak ada batasnya, sementara penghasilan yang didapatkan terbatas. 4 kelompok ini juga berbeda dari sisi penggunaan uang. Kalau bicara soal penghasilan, rejeki orang itu sudah ditentukan oleh Tuhan, jadi masing-masing sudah mendapatkan jatah yang ditentukan oleh Allah swt dan harus disyukuri. Tapi yang jadi pertanyaan adalah bagaimana kita menjemput rejeki yang sudah ditentukan jumlahnya tersebut? nah ini ada 4 kelompok orang berdasarkan cara menjemput rejeki tersebut.

4 Kuadran dan 2 sisi

Konsep dasar dari The Cashflow Quadrant ini membagi 4 kuadran seperti gambar ini.


Bisa kita lihat di situ ada 4 kuadran yaitu, E (Employee), S (Self-employed), B (Businessman), dan I (Investor). 2 kuadran yang di sebelah kiri yaitu E dan S adalah kelompok yang mempunyai sumber penghasilan aktif (active income) dimana mereka bekerja lalu mendapatkan uang. Sementara 2 kuadran yang di sebelah kanan yaitu B dan I adalah kelompok yang mempunyai sumber penghasilan pasif (passive income) dimana mereka mendapatkan uang tanpa harus bekerja secara langsung.

Mengapa kita harus memahami konsep Cashflow Quadrant ini? Tujuannya adalah supaya kita bisa mencapai Financial Freedom alias kebebasan keuangan. Maksudnya kebebasan keuangan itu seperti apa sih? Maksud kebebasan keuangan adalah kita tidak terbelenggu oleh masalah-masalah keuangan seperti membayar hutang, cicilan rumah, cicilan kartu kredit, listrik dan hal lain yang membutuhkan uang. Uang memang bukan segalanya, tetapi uang membantu memenuhi segala macam kebutuhan. Ketika kita berhasil mencapai kebebasan keuangan maka kita tidak dipusingkan lagi oleh masalah-masalah keuangan yang membelenggu. Ketika kita berhasil mencapai kebebasan keuangan maka kita bebas melakukan apapun yang kita mau tanpa harus memikirkan uang. Maka dari itu, dengan memahami perbedaan dari 4 kuadran, kita paham bagaimana pola pikir yang seharusnya kita miliki sehingga kita bisa mencapai kebebasan keuangan.


2 kuadran sebelah kiri
2 kuadran ini adalah E dan S dimana sumber penghasilan mereka adalah active income. Maksud dari active income adalah kita bekerja dan terlibat secara langsung dalam pekerjaan tersebut untuk mendapatkan uang, jika pekerjaan ditinggalkan maka akan ada konsekuensi tertentu seperti potong gaji, surat peringatan, berkurangnya komisi atau bahkan kehilangan pekerjaan.

Tapi terdapat perbedaan antara kuadran E dan kuadran S. Perbedaan mendasarnya adalah kepada siapa mereka bekerja. Kuadran E bekerja untuk perusahaan dimana ia bekerja, sementara kuadran S bekerja untuk dirinya sendiri. Kuadran E adalah karyawan yang bekerja pada perusahaan atau instansi tertentu, memiliki jadwal kerja yang ditentukan, digaji dan megikuti sistem yang ada di perusahaan. Sementara kuadran S adalah pekerja lepas atau memiliki bisnis yang dijalankan langsung oleh dirinya sendiri, mereka menjadi karyawan sekaligus bos untuk pekerjaan yang dilakukan, menentukan jadwal kerjanya sendiri, menggaji diri sendiri dan menentukan sistem kerja sendiri.

Black and Gray Photo of Person in Front of Computer Monitor

Kuadran E saat ini adalah merupakan kelompok mayoritas orang dewasa dalam mendapatkan sumber penghasilan. Kebanyakan orang dewasa masuk ke dalam kuadran E, mulai dari buruh pabrik, buruh proyek, pegawai bank, guru, polisi, tentara, dan pejabat negara. Setinggi apapun posisi seseorang di kuadran E, bahkan Presiden Direktur ataupun Presiden RI pun mereka tetap termasuk dalam kuadran E yang bekerja untuk perusahaan atau instansi, memiliki jadwal yang telah ditentukan, digaji dan mengikuti sistem tertentu.

Contoh Kuadran E adalah Direktur, mereka adalah pemimpin puncak pada sebuah perusahaan, memimpin seluruh karyawan perusahaan dan dapat memerintahkan bawahannya sesuai dengan keinginannya. Ia adalah bos di perusahaan tapi ia masih memiliki bos lagi di atasnya yaitu pendiri perusahaan atau pemegang saham. Direktur bertanggung jawab terhadap pemegang saham, gajinya ditentukan oleh pemegang saham, dan bekerja berdasarkan Anggaran Dasar perusahaan. Jika Direktur mengecewakan pemegang saham maka pemegang saham bisa mencopot jabatan Direktur tersebut. Seperti misalnya yang belum lama terjadi, Direktur sebuah perusahaan konstruksi BUMN dicopot oleh Jokowi selaku pemerintah sebagai pemegang saham BUMN tersebut karena banyaknya kasus kecelakaan pada saat pembangunan proyek. Sekalipun Direktur adalah posisi puncak, namun statusnya adalah karyawan yang bekerja di perusahaan.

adult, ambulance, care

Sementara Kuadran S ini juga merupakan kelompok yang jumlahnya juga cukup banyak. Mulai dari tukang bakso, warung yang dijalankan sendiri, tukang parkir, supir online, dokter yang buka praktik sendiri, youtuber, penyanyi dan aktor/aktris adalah termasuk dalam kuadran S. Mereka memiliki bisnis dan menjalankan bisnis tersebut oleh dirinya sendiri. Menjadi karyawan sekaligus menjadi bos untuk diri sendiri, menentukan jadwal sendiri, menggaji diri sendiri dengan sistem yang dibuat sendiri. Dalam hal ini, antara tukang bakso dan Sule memiliki kesamaan, mereka tidak mendapatkan penghasilan jika tidak menjalankan pekerjaannya.

Contoh Kuadran S adalah dokter yang buka praktik sendiri, mereka tidak bekerja pada rumah sakit melainkan membuka praktik di rumahnya sendiri. Tidak digaji oleh rumah sakit tapi mendapatkan penghasilan langsung dari pasien yang diobatinya. Mempunyai jadwal kerja yang ditentukan oleh dirinya sendiri dan menjalankan sistem yang dibuat olehnya. Ia menjadi bos tertinggi di kliniknya, tapi tidak bisa seenaknya meninggalkan pekerjaan karena ia juga menjadi karyawannya, jika ia meninggalkan pekerjaannya maka ia tidak mendapatkan penghasilan. Bisa dibilang Kuadran S adalah 'One Man Show' karena dia berjuang sendiri dalam mendapatkan penghasilan.

Seperti itulah Kuadran E dan S yang merupakan kelompok yang mendapatkan penghasilan dengan active income. Keduanya sama, yaitu mereka melakukan pekerjaannya langsung untuk mendapatkan penghasilan. Untuk 2 Kuadran di sisi kanan (Passive Income) nanti akan dijelaskan di bagian berikutnya.

Terima kasih.

Kamis, 07 September 2017

Semua Hasil Perbuatan Tergantung dari Niat

Photo by Parth Vyas on Unsplash
Kita pasti sudah sering mendengar bahwa semua hasil perbuatan itu tergantung dari niat. Bagaimana kita berniat dalam melakukan sesuatu, maka hasil yang kita dapatkan akan sesuai dengan apa yang kita niatkan. Dalam hal apapun, penting untuk menentukan seperti apa niat kita sebelum melakukan sesuatu agar hasil yang didapatkan akan sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Ketika kita duduk di bangku sekolah, kita mempunyai niat masing - masing dalam diri kita. Untuk apa kita sekolah? Seharusnya kita datang ke sekolah untuk belajar. Namun terkadang kita juga merasa malas untuk datang ke sekolah. Atau kita datang ke sekolah bukan berniat untuk belajar, tetapi hanya ingin bertemu dan bermain dengan teman sekolah. Dan hasilnya bisa kita lihat, orang yang berniat sungguh - sungguh datang ke sekolah karena ingin belajar, biasanya dia yang menduduki peringkat atas di kelasnya.

Itu salah satu contoh niat. Kita membutuhkan niat yang baik dalam berinvestasi karena niat dalam berinvestasi itu penting. Untuk apa sih kita berinvestasi? Dan mengapa kita memilih saham sebagai alat investasi kita? Karena masing - masing investor punya niat dan tujuan yang berbeda - beda dalam berinvestasi. Untuk yang masih muda, mungkin berniat suatu saat ingin menikmati pensiun di usia muda dari hasil investasi. Untuk yang sudah menikah dan punya anak, mungkin ingin membiayai sekolah dan kuliah anak - anaknya. Untuk yang sudah tua mungkin ingin meninggalkan harta warisan dalam bentuk investasi.

Ingin untung besar dan instan
Terkadang orang yang baru tau dunia investasi, atau dunia bisnis secara umum, memandang bahwa bisnis dan investasi adalah bidang yang dapat menghasilkan keuntungan besar dalam waktu singkat. Tak jarang pula kita temukan orang yang berambisi ingin mendapatkan keuntungan sebesar mungkin dalam waktu singkat. Padahal tidak semudah itu jika ingin membangun bisnis dan investasi. Mungkin beberapa orang bisa meraih kesuksesan besar dalam waktu singkat. Tetapi itu hanya beberapa dari sekian juta orang. Itu pun mereka mendapatkan kesuksesan besar karena ide, kerja keras, dan keberuntungan mereka yang memang luar biasa, seperti misalnya Mark Zuckerberg yang sukses melalui Facebook atau Jeff Bezos dengan Amazon miliknya. Mereka adalah orang - orang yang memang sangat unik dan beruntung. Jadi sangat kecil kemungkinannya bisa mengikuti jejak mereka.


Dalam dunia investasi saham, terkadang kita melihat sebuah saham harganya naik sangat tajam, dan beberapa orang mengaku mereka ikut mengambil untung besar dari kenaikan tajam tersebut. Cerita tersebut tersebar dan diketahui oleh banyak orang. Dan beberapa investor yang baru mulai berinvestasi saham berniat dan berambisi ingin mendapatkan keuntungan sebesar - besarnya dalam waktu singkat. Lalu apa yang terjadi? Mereka berlomba - lomba mencari saham yang diprediksi akan naik tajam. Apabila seseorang mengatakan,"Saham X bakal naik nih besok", mereka ikut membeli saham tersebut tanpa melakukan analisa lebih lanjut. Lalu ternyata saham X malah anjlok harganya. Bukan mendapatkan keuntungan besar, malah mendapatkan kerugian besar.

Itu hanya contoh buruk yang bisa terjadi dalam berinvestasi apabila kita memiliki niat dan ambisi yang tidak tepat. Lalu bagaimana niat yang seharusnya kita tanamkan dalam berinvestasi?

Mencari pertumbuhan modal



Yang kita cari dalam berinvestasi bukanlah sebuah keuntungan besar dalam waktu singkat. Tetapi kita berusaha untuk mencari pertumbuhan modal yang tinggi namun logis dan mempertahankan modal kita. Seperti yang dikatakan oleh Warren Buffet,"Peraturan nomor 1 : jangan pernah hilangkan uang anda. Peraturan nomor 2 : jangan pernah lupakan aturan nomor 1". Pertumbuhan yang tinggi namun logis dalah berinvestasi adalah sekitar 15% - 30% per tahun. 30% itu termasuk pertumbuhan yang sangat tinggi. Warren Buffet saja dengan pertumbuhan modal 20% per tahun sudah menjadikan dia orang terkaya dan paling sukses dalam investasi saham. Setidaknya pasang saja target pertumbuhan minimal 15% per tahun atau setidaknya lebih tinggi dari bunga deposito. Tidak perlu berangan - angan ingin mendapatkan keuntungan ratusan persen dari sebuah saham dalam waktu singkat. Keuntungan 150% saya dari saham IBST pun hanya sebuah kejadian yang sangat jarang terjadi. Pasang saja target yang logis dan jalani prosesnya dengan baik.

Dengan berniat dan memasang target yang logis, kita juga akan menjalani proses secara logis pula dan hasilnya pun akan memuaskan. Beda halnya apabila kita menginginkan keuntungan besar dalam waktu singkat. Tidak logis dan ingin instan, maka kita juga akan menjalani proses secara tidak logis dan tergesa - gesa. Padahal dalam berinvestasi saham itu yang terpenting adalah memahami dan meyakini dengan penuh setiap keputusan investasi yang kita buat. Karena seperti yang dikatakan Warren Buffet,"Risiko datang dari tidak tahu apa yang anda lakukan".


Walaupun memang karakter orang berbeda - beda. Beberapa orang memang memiliki karakter yang tidak sabaran dan ingin dapat hasil cepat. Tapi jika ingin sukses dalam berinvestasi saham. Salah satu kunci dasarya ya seperti itu. Tentukan niat yang baik dan logis seperti yang dikatakan sebelumnya. Kalo memang itu sudah karakter yang tidak bisa diubah lagi, maka mungkin orang tersebut tidak cocok untuk menjadi investor.

Seperti itu untuk artikel kali ini. Mari kita berniat untuk mencari pertumbuhan modal. Mari menjadi investor yang rasional. Semoga kita sukses mendapatkan pertumbuhan modal tinggi dan konsisten. Semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Terima kasih.

Senin, 28 Agustus 2017

Pengalaman KKN : Hidup Bermasyarakat

Woow. Saya baru saja selesai KKN (Kuliah Kerja Nyata) dan saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa. 35 hari KKN di desa, keluar dari rutinitas sehari - hari dan belajar, bekerja, dan bergaul dengan warga masyarakat desa. Pengalaman yang menyenangkan dan penuh dengan wawasan baru. Saya mendapatkan banyak pelajaran yang berharga dan ingin saya rangkum lewat tulisan ini. Mungkin kalau diceritakan satu per satu bakal terlalu panjang. Jadi, saya akan menyampaikan beberapa poin penting yang saya dapatkan. Apa ada hubungannya dengan dunia investasi? simak saja lah pokoknya ya.


Strategi investasi yang ampuh
Jika anda berfikir bahwa tinggal di desa itu ga enak dan susah. Mungkin ada benarnya. Tetapi kenyamanan yang saya rasakan ketika tinggal di desa sangat berbeda daripada di kota. Memang di kota itu lengkap, mau cari apa saja ada. Apalagi Jakarta yang merupakan pusat bisnis dan pemerintahan. Tapi ada sesuatu yang tidak bisa didapatkan di kota. Yaitu rasa persatuan dan gotong royong. Secara umum memang dimana - mana harus ada rasa persatuan dan gotong royong. Tetapi hal tersebut dapat kita rasakan di desa secara utuh. Warga desa bersatu dan gotong royong bekerja sama untuk satu tujuan.

Pastinya kita juga bisa merasakan bagaimana suasana kota dengan hiruk pikuknya yang terasa semrawut. Berbeda dengan di desa. Sering kita jumpai orang - orang di kota yang mind your own business alias acuh tak acuh. Semua orang berusaha mencari uang dan memenuhi ambisi dan terkadang lupa dengan lingkungan sekitarnya. Apalagi yang tinggalnya di apartemen. Ya, rasa persatuan dan gotong royong yang utuh hanya bisa ditemukan di desa. Selain itu, pastinya kita sudah paham bagaimana perbedaan antara kota dan desa dari segi lingkungan. Udara sejuk dan pemandangan gunung, sawah, dan hutan itu ya hanya ada di desa. Tentu sebagai investor, kita adalah sleeping partner perusahaan bukan? Nah tempat yang cocok untuk berfikir dan mencari inspirasi sekaligus istirahat itu ya di desa. Tidak usah memantau harga saham setiap hari. Pilih beberapa saham unggulan anda, lalu hidup tenang di desa.


Ini rencana strategi investasi yang ingin saya lakukan (jika sudah memiliki modal besar): analisa dan cari saham yang bagus dan murah, lalu tinggal lah di desa dan membangun desa. Beberapa tahun kemudian anda akan melihat portofolio anda bertumbuh tinggi. Gunakan sebagian keuntungan tersebut untuk membangun desa dan sebagian keuntungan lainnya diinvestasikan kembali. Evaluasi porto anda, cari lagi saham yang bagus dan murah. Lalu anda mendapatkan keuntungan lagi setelah beberapa tahun. Terus seperti itu.. Apakah strategi tersebut bisa berhasil? Setidaknya itu yang saya alami pada saat KKN. Selama KKN saya tidak memantau Mr. Market dan ketinggalan berita. Lalu, ternyata saham IBST naik tajam 150%. Dan porto saya bertumbuh 41% sejak awal tahun sampai sekarang. Sebuah pertumbuhan yang fantastis jauh di atas rata - rata. Saya juga tidak menyangka IBST bakal naik secepat itu. Detail tentang cerita porto saya akan saya ceritakan di lain artikel.

Berapa banyak yang kita berikan
Ada satu pelajaran penting yang benar - benar menjadi kunci dalam hidup, termasuk kunci dalam investasi. Yaitu, banyaknya rejeki itu bukan ditentukan dari berapa banyak yang kita dapatkan, tetapi berapa banyak yang kita berikan. Kebanyakan orang berusaha keras untuk meningkatkan apa yang mereka dapatkan. Ketika sudah mendapatkan banyak, rasanya juga masih kurang. Lalu mereka mencari lebih banyak lagi dan lagi. Hingga pada suatu titik, beberapa orang melakukan cara yang buruk seperti korupsi untuk mendapatkan lebih banyak lagi.

Kalo dipikir - pikir, untuk apa mendapatkan lebih dan lebih kalo kebutuhan kita sudah tercukupi? Ya, itu memang sifat dasar manusia yang cenderung rakus. Gaji pejabat yang tinggi itu saya rasa sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan, bahkan juga sudah cukup untuk memenuhi apa yang diinginkan. Jauh berbeda dengan kondisi saya yang sekarang. Saya berusaha untuk berhemat, sehemat - hematnya untuk memenuhi kebutuhan. Dan alhamdulillah saya bisa ekstra hemat dan masih ada uang yang disisihkan untuk investasi. Saya pun masih termasuk beruntung, karena masih ada orang - orang yang lebih kurang mampu dibanding saya.


Yang saya temui di desa kurang lebih seperti itu. Ada orang yang lebih kurang mampu dibanding saya. Baik dari segi ilmu dan rejeki. Waktu itu saya menyampaikan salah satu program kami penyuluhan tentang pengelolaan keuangan kepada warga desa. Salah satuya mengatakan, "Kalo yang dikelola (uangnya) itu ga ada gimana?". Agak bingung juga saya menyikapi hal tersebut bagaimana. Memang masih ada orang di desa yang hidupnya sangat prihatin, sekolahnya hanya lulusan SD, berjuang mencari rejeki untuk mengisi perut. Ga cuma di desa, dimanapun di Indonesia masih banyak orang yang membutuhkan bantuan kita.

Makanya saya pikir, untuk apa kita mendapatkan lebih lebih dan lebih sementara masih banyak orang yang berusaha hanya untuk mengisi perut setiap hari? Tidak akan ada habisnya jika kita tidak puas ingin mendapatkan lebih dan lebih. Tapi dari apa yang kita dapatkan itu, kita harus berusaha memberikan kepada orang yang membutuhkan. Berikanlah sebanyak mungkin dengan ikhlas, maka kita akan mendapatkan ketenangan dan kepuasan batin. Bukankah itu yang kita inginkan? Kita mencari uang bukan hanya sekedar mencari uang, tapi kita juga mencari ketenangan dan kepuasan batin.


Bermanfaat untuk orang lain
Ada satu pelajaran penting lainnya yang saya dapatkan dari desa. Kepala Desa Paningkaban Pak Soekarmo mengatakan,"Orang yang sukses itu adalah orang yang bermanfaat untuk orang lain". Ini juga ga jauh beda dari sebuah hadits yang berbunyi "Sebaik - baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain". Tentunya ini memang hal yang paling penting. Untuk apa kita bekerja keras kalo kita tidak memberikan manfaat untuk orang lain? Malah ada beberapa orang yang mengorbankan kepentingan rakyat untuk memuaskan hasrat dirinya sendiri.


Jelas kita tahu bahwa kita hidup sebagai makhluk sosial. Kita hidup bersama dan saling ketergantungan satu sama lain. Seperti yang dikatakan tadi bahwa kita ini mencari kepuasan batin bukan sekedar mencari uang. Maka memberikan manfaat bagi orang lain itu harus menjadi tujuan utama kita dalam hidup. Apapun yang kita lakukan, kita berusaha untuk memberikan manfaat untuk orang lain. Salah satu yang saya lakukan ya dengan menulis blog ini. Saya mungkin belum punya uang atau hal lain untuk dibagikan. Tapi saya punya sedikit ilmu yang ingin saya bagikan, sambil belajar saya ingin juga berbagi apa yang saya pelajari agar saya bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Prinsip bisnis pun sebenarnya bertujuan untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Bisnis adalah usaha untuk menyediakan barang dan jasa kepada orang lain. Jadi, pada dasarnya bisnis itu untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Almarhum pendiri PT. Astra International, Tbk. yang akrab disapa Oom Willem juga mempunyai prinsip untuk bermanfaat bagi orang lain. Beliau berusaha membangun dan membesarkan Astra agar bermanfaat bagi orang lain. Prinsipnya seperti gambar dari buku Man of Honor di bawah ini.


Jadi, ketika kita berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain. Ujung - ujungnya kita juga merasakan timbal baiknya dari orang lain. Ga akan rugi kita menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Ga akn rugi kita memberikan lebih kepada orang lain. Justru semakin banyak kita memberi maka semakin banyak kita mendapatkan. Seperti itu prinsip yang pasti akan memberikan kita kebahagiaan.

Mungkin cukup sekian artikel kali ini. Seperti itulah inti yang saya dapatkan dari pengalaman KKN di desa. Secara langsung, tidak banyak pelajaran tentang investasi di artikel ini. Tapi saya lebih menekankan tentang pola pikir dan prinsip yang penting. Prinsip bermanfaat bagi orang lain itu penting untuk kita pegang. Dan juga ide strategi investasi dari saya boleh untuk dicoba.


Semoga bermanfaat. Seperti biasa, silahkan isi kolom komentar atau hubungi kontak saya untuk menyampaikan pertanyaan, kritik, saran, kesan, dan pesan.

Terima kasih

Jumat, 21 Juli 2017

Rumus Investasi Sakti a la Joel Greenblatt


Beberapa waktu yang lalu saya baca buku yang sangat menarik, yaitu "The Little Book That Beats The Market" karya Joel Greenblatt. Joel Greenblatt adalah seorang Value Investor yang cukup terkenal. Buku tersebut saya baca hanya dalam waktu kurang lebih 3 hari karena memang penjelasannya mudah dimengerti dan juga isinya bikin penasaran. Dalam buku itu Joel Greenblatt menjelaskan konsep membeli saham perusahaan yang bagus dengan harga yang murah. Cukup dengan mengikuti konsep itu, maka investor bisa mendapatkan hasil yang memuaskan, bahkan di atas rata-rata. Bagaimana caranya?


Lebih lanjut dijelaskan dalam buku itu tentang bagaimana mendapatkan imbal hasil yang memuaskan hanya dengan membeli perusahaan yang bagus dengan harga murah. Cara itu menghasilkan imbal hasil sebesar 30% per tahun selama 17 tahun. Itu adalah tingkat imbal hasil yang luar biasa melebihi rata-rata dan melebihi indeks S&P 500 yang sebesar 12% per tahun. Cara itu adalah dengan menggunakan rumus sakti yang ditemukan oleh Joel Greenblatt. Lalu memberi peringkat berdasarkan rumus sakti tersebut pada semua saham yang ada di bursa dan memilih 30 saham yang ada di peringkat teratas. Bagaimana rumusnya?

Rumus Investasi Sakti
Inilah yang membuat saya tertarik. Sejak awal membaca buku ini, konsep yang dijelaskan oleh penulis memang sangat menarik dan cocok untuk para Value Investor. Yaitu membeli saham perusahaan yang bagus dengan harga yang murah. Sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Benjamin Graham dan juga Warren Buffet. Joel Greenblatt juga belajar dari dua orang master tersebut. Lalu dia menciptakan sebuah rumus sakti yang dapat memberikan imbal hasil tinggi mengalahkan imbal hasil rata-rata.

Ada dua poin, yaitu mencari perusahaan yang bagus dan mencari perusahaan yang murah.


Mencari perusahaan yang bagus itu bagaimana? Tentunya banyak faktor yang menentukan apakah sebuah perusahaan itu bagus atau tidak. Mulai dari marjin laba sampai tingkat hutang. Joel Greenblatt menjelaskan satu cara, yaitu menggunakan rasio Return on Capital (ROC).

Retun on Capital = EBIT/Capital Employed

EBIT adalah Earnings Before Interests and Taxes. Atau disebut juga Laba Operasi (Earnings from Operation) yaitu laba setelah dikurangi oleh biaya-biaya operasional namun belum dikurangi oleh bunga dan pajak. Joel Greenblatt lebih memilih untuk menggunakan EBIT karena tingkat bunga dan pajak setiap perusahaan berbeda-beda. Jadi, untuk membandingkan tingkat keuntungan perusahaan lebih baik menggunakan EBIT daripada Laba Bersih.

Lalu EBIT dibagi dengan Aset yang terlihat (Tangible Asset) atau Capital Employed. Capital Employed adalah modal yang digunakan perusahaan untuk menjalankan bisnis. Modal tersebut dihitung dengan Working Capital (Aset Lancar dikurangi Hutang Jangka Pendek) ditambah Aset Tetap. Atau Total Aset dikurangi Hutang Jangka Pendek.

Return on Capital ini adalah tingkat keuntungan yang dihasilkan perusahaan dibandingkan dengan modal yang digunakan perusahaan. Contoh, Rina membuka sebuah toko dengan modal Rp. 100 juta. Modal itu didapatkan dari modal sendiri sebesar Rp. 80 juta dan hutang bank jangka panjang sebesar Rp. 20 juta. Pada tahun pertama Rina mendapatkan omset sebesar Rp. 80 juta, lalu setelah dikurangi biaya-biaya operasional seperti membayar pemasok, membayar gaji karyawan, promosi dan sebagainya, Rina mendapatkan keuntungan atau Laba Operasi sebesar Rp. 40 juta. Itu belum dikurangi bunga dan pajak. Nah, Rp. 40 juta dibagi dengan Rp. 100 juta adalah 40%. 40% itu adalah Return on Capital.


Selanjutnya mencari perusahaan yang murah. Pada umumnya investor menggunakan rasio PER dan PBV untuk menghitung apakah harga saham sebuah perusahaan murah atau tidak. Tapi Joel Greenblatt memilih menggunakan Earning's Yield daripada PER dan PBV.

Earning's Yield = EBIT/Enterprise Value

Sama seperti Return on Capital, menghitung Earning's Yield juga menggunakan EBIT. Lalu dibagi dengan Enterprise Value. Yaitu Kapitalisasi Pasar (Market Capitalization) ditambah dengan Total Hutang perusahaan. Perhitungan ini mirip dengan Rasio E/P (kebalikan dari PER), namun pada bagian P ditambahkan Total Hutang perusahaan.

Earning's Yield ini adalah tingkat keuntungan yang dihasilkan perusahaan dibandingkan dengan harga pasar perusahaan ditambah dengan Total Hutang perusahaan. Contoh, seperti contoh sebelumnya, pada tahun pertama Rina mendapatkan Laba Operasi sebesar Rp. 40 juta. Lalu, Edi ingin membeli toko milik Rina. Rina menawarkan harga jual kepada Edi sebesar Rp. 180 juta. Namun Rp. 180 juta adalah penawaran dengan mengalihkan hutang sebesar Rp. 20 juta milik Rina kepada Edi. Edi harus membayar hutang milik Rina. Atau Edi tidak perlu membayar hutang milik Rina, tapi Rina menawarkan harga sebesar Rp. 200 juta bersih dari hutang. Lalu disetujui harga Rp. 200 juta. Jika Laba Operasi yang dihasilkan tetap sebesar Rp. 40 juta, maka tingkat keuntungan yang dihasilkan Edi dibanding dengan harga beli bersih dari hutang sebesar Rp 200 juta adalah 20% (40 juta/200 juta).

Contoh CLPI
Coba kita terapkan pada kasus nyata. Kita hitung Return on Capital dan Earning's Yield dari Laporan Keuangan tahun 2016 PT. Colorpak Indonesia, Tbk. (CLPI).


Laba Operasi (lihat: Laba usaha) CLPI adalah sebesar Rp. 87.310 juta. Itu adalah laba sebelum perhitungan bunga dan pajak. Lalu Capital Employed CLPI didapatkan dari Total Aset sebesar Rp. 567.560 juta dikurangi dengan Total Liabilitas Jangka Pendek sebesar Rp. 127.377 juta. Didapatkan Capital Employed sebesar Rp. 440.183 juta. Jadi, Return on Capital CLPI yaitu Rp. 87.310 juta dibagi dengan Rp. 440.183 adalah sebesar 19,8%.

Dengan harga saham terakhir Rp. 1.000,- dikali dengan jumlah saham sebesar 306 juta lembar saham, maka Kapitalisasi Pasar CLPI adalah sebesar Rp. 306 Miliyar. Rp. 306 Miliyar ditambah dengan Total Liabilitas sebesar Rp. 138.798 juta didapatkan Enterprise Value CLPI sebesar Rp. 444.798 juta. Jadi, Earning's Yield CLPI yaitu Rp. 87.310 juta dibagi dengan Rp. 444.798 juta adalah sebesar 19,6%.

Rumus itu diterapkan pada semua saham yang ada di bursa, lalu diberi peringkat ROC terbesar sampai terkecil dan Earning's Yield terbesar sampai terkecil. Peringkat tersebut dijumlahkan, lalu ambil 30 saham pada peringkat teratas. Dengan cara itu bisa dihasilkan imbal hasil yang tinggi. Joel Greenblatt telah membuktikan selama 17 tahun didapatkan imbal hasil sebesar 30% per tahun.

Joel Greenblatt menjelaskan bahwa tidak setiap tahun rumus tersebut dapat mengalahkan rata-rata. Ada kalanya rumus tersebut kalah dari rata-rata. Nah, kebanyakan investor gagal dalam menerapkan rumus ini karena tidak tahan melihat portofolio mereka kalah dengan pasar untuk sementara. Joel Greenblatt menjelaskan apabila investor menerapkan rumus ini secara disiplin, maka akan berhasil mendapatkan imbal hasil yang tinggi. Tapi jika investor yang menerapkan rumus ini tidak tahan dengan kekalahan sementara, lalu menggantinya dengan strategi lain, maka yang didapatkan hanyalah kekalahan saja. Investor tersebut berhenti sebelum rumus tersebut bekerja menghasilkan imbal hasil tinggi.


Seperti itulah rumus sakti yang dapat membuat anda mendapatkan hasil investasi yang tinggi. Saya sendiri yakin dengan rumus tersebut karena mudah dipahami dan masuk akal. Ini menjadi salah satu patokan saya dalam memilih saham, walaupun saya tidak membeli sampai 30 saham. Saya sudah menerapkan rumus tersebut dan memberi peringkat pada saham-saham yang sudah pernah saya analisa (kedepannya saya akan menerapkan pada semua saham di bursa). Hasilnya, saham-saham yang sedang saya pegang berada di peringkat teratas. Dibandingkan dengan perhitungan-perhitungan yang lainnya, saham-saham yang saya pegang lolos dalam beberapa kriteria mulai dari kriteria Benjamin Graham, Peter Lynch sampai dengan rumus sakti a la Joel Greenblatt ini (semuanya saya kombinasi dengan trik ATM alias Amati, Tiru, Modifikasi). Jadi, berbagai macam rumus yang ditemukan oleh para Value Investor itu sebenarnya tidak jauh berbeda. Pada dasarnya semua mengacu pada apa yang diajarkan oleh Benjamin Graham, yaitu membeli perusahaan yang bagus dengan harga murah. Kita tinggal pelajari lalu modifikasi sesuai dengan yang kita inginkan.

Cukup sekian tulisan kali ini. Silahkan jika anda ingin mencoba mempraktikkan rumus ini dengan trik ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Silahkan juga apabila ingin memberikan kritik, saran, kesan dan pesan pada kolom komentar di bawah. Semoga bermanfaat.

Terima kasih.

Sabtu, 10 Juni 2017

Pengusaha dan Investor: Antara Invensi dan Investasi

Setelah kemarin saya membahas analisa fundamental IBST dan EKAD yang mungkin agak pusing untuk dibaca, kali ini mari kita kembali ke konsep dasar investasi. Konsep dasarnya yaitu seperti pada gambar di bawah ini.


Mbah Peter Lynch mengatakan, "walaupun terkadang mudah untuk dilupakan, selembar saham bukanlah tiket lotere, itu adalah kepemilikan-sebagian dari bisnis". Saat ini mungkin istilahnya bukan lembar saham, karena jaman sekarang jual-beli saham bukan dalam bentuk lembaran kertas melainkan dalam bentuk elektronik. Jadi untuk istilah saat ini saham bukan hanya sekadar kode saham atau harga dalam grafik yang naik turun, tetapi itu adalah kepemilikan sebagian dari bisnis.

Dari situ kita bisa paham konsep dasar investasi bukan? Investasi ini pada dasarnya berhubungan dengan invensi. Dua kata yang agak mirip tetapi beda, namun konsepnya sejalan. Sejalan bagaimana? Invensi adalah penciptaan atau perancangan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Sedangkan investasi adalah penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan. Jadi, dalam hal ini seorang pengusaha melakukan invensi, yaitu menemukan sebuah usaha dan membangun usaha tersebut. Sedangkan investor melakukan penanaman modal pada perusahaan yang dibangun oleh pengusaha untuk ikut merasakan keuntungan dari bisnis yang dibangun oleh pengusaha tersebut.

Seorang pengusaha, atau istilah kerennya saat ini yaitu entrepreneur, adalah seorang yang memiliki ide baru dan inovasi yang belum pernah ada sebelumnya. Pengusaha membangun bisnis dari nol. Dari yang tidak ada menjadi ada. Lalu, pada saat bisnis sudah mulai berjalan, pengusaha mencari tambahan modal untuk berekspansi dan mengembangkan bisnisnya. Dia mencari investor yang merupakan keluarga, teman, atau kenalannya. Di sini beberapa investor terlibat dalam tahap awal perkembangan perusahaan. Lalu, semakin bisnis tersebut berkembang menjadi lebih besar, perusahaan membutuhkan dana lebih banyak lagi untuk melakukan ekspansi yang lebih besar lagi. Dalam hal ini perusahaan melakukan penawaran saham perdana (IPO) atau disebut go public pada Bursa Efek Indonesia (BEI). Di sini jumlah investor semakin bertambah, dan sebagian saham perusahaan diperdagangkan di bursa dan bisa dimiliki oleh masyarakat umum. Ilustrasinya bisa dilihat pada gambar berikut.


Pada tahap awal perusahaan berdiri, Angels Investor terlibat dalam pendanaan awal perusahaan. Lalu pada tahap selanjutnya Seed Capital mulai terlibat, lalu Venture Capital, sampai pada titik dimana perusahaan go public.

Pengusaha yang sejak awal mendirikan bisnis dari nol tentunya mendapatkan keuntungan besar apabila perusahaannya berhasil bertumbuh menjadi semakin besar dan semakin sukses. Lalu, investor yang berinvestasi pada awal perusahaan berjalan pun ikut mendapatkan keuntungan yang besar dari pertumbuhan perusahaan. Dan pada saat go public inilah investor pada umumnya terlibat dalam investasi pada perusahaan tersebut dan investor umum tidak mendapatkan keuntungan sebesar pengusaha yang mendirikan perusahaan.

Semakin awal seorang terlibat dalam sebuah investasi perusahaan maka semakin tinggi potensi keuntungan, namun semakin tinggi juga risiko atau potensi kegagalan yang bisa terjadi. Dalam hal ini berlaku hukum high risk, high return yaitu semakin tinggi risiko maka semakin tinggi keuntungan. Makanya jika kita melihat daftar orang terkaya kebanyakan adalah pengusaha. Mereka adalah orang-orang hebat yang mempunyai ide dan membangun bisnis dari nol hingga mendapatkan keuntungan dan pertumbuhan yang luar biasa besar sehingga menjadikan mereka orang terkaya di dunia. Namun, tidak serta merta sebuah bisnis itu langsung berhasil. Di antara pengusaha yang termasuk dalam daftar orang terkaya, ada ribuan, ratusan ribu dan bahkan mungkin jutaan pengusaha yang gagal dan tersingkir dari medan persaingan.

Sedangkan seorang investor mungkin tidak akan mendapatkan keuntungan sebesar pengusaha yang mendirikan bisnis dari nol, tetapi risiko kegagalan pun lebih kecil dari pengusaha. Investor juga tidak perlu pusing memikirkan bagaimana membuat sistem bisnis, mengurusi karyawan, mencari supplier, membangun jaringan distribusi, memasarkan produk, dan lain sebagainya. Bisa dibilang investor adalah sleeping partner perusahaan. Investor hanya perlu pintar mencari perusahaan yang bagus dan memiliki potensi pertumbuhan yang bagus, membeli sahamnya di harga yang relatif murah terhadap harga wajarnya, lalu ditinggal tidur dan membiarkan pengusaha menjalankan bisnisnya. Investor bisa terus menjadi sleeping partner perusahaan selamanya, selama perusahaan masih memberikan keuntungan. Jika perusahaan tidak bisa memberikan keuntungan lebih banyak lagi atau justru tersingkir oleh persaingan yang ketat. Maka investor akan keluar dan mencari perusahaan lain yang memberikan keuntungan lebih besar.


Invensi yang dilakukan oleh pengusaha dan investasi yang dilakukan oleh investor pada dasarnya memiliki konsep yang sejalan. Seperti yang dikatakan oleh Mbah Warren Buffet, "saya adalah investor yang lebih baik karena saya adalah pengusaha, dan saya adalah pengusaha yang lebih baik karena saya adalah investor".

Dalam banyak kasus, banyak investor yang mengalami kegagalan karena berinvestasi pada perusahaan yang salah atau di harga yang salah atau keduanya. Mereka gagal berinvestasi karena membeli perusahaan tanpa terlebih dahulu memahami bagaimana bisnis dalam perusahaan itu dijalankan dan apakah mereka membayar lebih mahal atau tidak ketika membeli perusahaan tersebut. Entah itu mereka membeli karena rekomendasi dari analis professional, bisikan tetangga, atau dari ramalan dukun bahwa harga saham tersebut akan naik. Memang investor hanya tidur dan tidak perlu memikirkan bagaimana bisnis itu dijalankan. Namun tetap investor juga mempunyai pekerjaan rumah yang tidak bisa dianggap remeh seperti membaca laporan keuangan, laporan tahunan, analisa prospek usaha, memilih saham, mengatur strategi investasi, mengelola portfolio, dan sebagainya yang pada dasarnya mereka juga harus memahami bisnis.


Tidak sedikit pula perusahaan yang gagal dalam melakukan investasi pada sebuah proyek baru. Entah itu proyek membangun cabang baru, mendirikan pabrik baru, melakukan kerjasama operasi dengan perusahaan lain, mengakuisisi perusahaan lain dan lain sebagainya. Mungkin pada awalnya sebuah rumah makan bisa menjalankan bisnisnya dengan baik di suatu daerah, namun ketika mereka membuka cabang di daerah lain malah justru tidak laku dan akhirnya mereka mengalami kerugian. Sebagai contoh, baru-baru ini perusahaan Indonesia pemegang lisensi 7-Eleven berekspansi besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir, namun akhirnya mereka mengalami kerugian dalam dua tahun terakhir dan akhirnya berencana menjual lisensi tersebut kepada perusahaan lain. Memang pengusaha yang mendirikan bisnis dari nol bisa berpotensi menghasilkan keuntungan yang luar biasa dan membuat kita menjadi orang terkaya. Tetapi perjalanannya sungguh tidak mudah sejak awal didirikannya perusahaan tersebut dan tidak mudah untuk terus bertumbuh dan mengalahkan para pesaing yang ada. Dalam hal ini tentunya pengusaha tidak hanya harus punya ide, visi, keberanian, dan manajemen yang bagus. Tetapi juga harus memahami cara berinvestasi yang baik seperti menghitung rasio risiko dan keuntungan, potensi pengembalian modal, biaya oportunitas, dan lain sebagainya.

Jadi seperti itulah konsep invensi dan konsep investasi yang sejalan. Bill Gates dan Warren Buffet yang merupakan orang pertama dan kedua terkaya di dunia mempraktikkan kedua konsep tersebut dengan baik sehingga mereka menjadi orang terkaya di dunia. Warren Buffet pun bukan investor biasa, dia membeli tidak hanya sebagian perusahaan, tetapi membeli mayoritas saham atau seluruh perusahaan. Bill Gates pun saat ini hanya memiliki 2,3% saham Microsoft. Kekayaannya dari Microsoft menyumbang sebesar 13% dari total kekayaannya. Lalu kemana sisa kekayaannya? nah sisa hartanya diinvestasikan dalam bentuk lain seperti misalnya rumah, beberapa perusahaan, dan yang luar biasa adalah Yayasan Bill and Melinda Gates yang merupakan yayasan terbesar di dunia yang memerangi polio, malaria, dan imunisasi anak. Dan baru-baru ini Bill Gates bersama pengusaha lain juga berinvestasi pada bentuk baru dari energi bersih.


Baik itu investasi maupun invensi, yang paling penting adalah countinuous improvement and learning atau perbaikan dan pembelajaran berkelanjutan. Mustahil seorang bisa sukses tanpa melakukan perbaikan dan pembelajaran dalam hidupnya. Itulah mengapa motto saya yang terpampang dalam blog ini adalah, "aku mencari pertumbuhan dalam investasi. Baik itu pertumbuhan modal maupun pertumbuhan ilmu, sikap mental, dan kedewasaan diri. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini". Entah bagaimana hingar bingar dan segala yang terjadi di luar sana. Yang terpenting adalah kita harus menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. 

Dan saya pribadi awalnya bercita-cita ingin menjadi pengusaha sejak SMP. Saya membaca berbagai macam buku tentang bisnis, motivasi, dan segala macam. Sampai kuliah pun masuk jurusan manajemen. Tetapi belum ada satu langkah pun dalam membangun bisnis. Karena memang itu sulit untuk dilakukan, risiko tinggi dan membutuhkan pengorbanan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Sampai pada akhirnya saya menemukan dunia investasi. Dunia yang pada dasarnya sejalan dengan dunia usaha namun sedikit lebih mudah daripada membangun usaha dari nol. Dan saya senang mendalami dan belajar banyak tentang investasi maupun bisnis. Dan sekarang saya sudah mantap bercita-cita untuk menjadi pengusaha dan investor yang sukses seperti Bill Gates dan Warren Buffet. Dan mungkin anda mempunyai mimpi yang sama seperti saya. Jadi, mari kita belajar dan memperbaiki diri terus menerus dan semoga apa yang kita cita-citakan bisa menjadi kenyataan.

Sekian tulisan kali ini. Semoga bermanfaat dan semoga kita selalu dikaruniai kesehatan dan umur panjang agar bisa terus belajar dan melakukan hal yang berguna dalam hidup.

Terima kasih.

Jumat, 02 Juni 2017

7 (Tujuh) Tingkat Investor


Pada tulisan kali ini saya akan mengutip dan menyajikan kembali bab lima dari buku "The Cashflow Quadrant" karya Robert T. Kiyosaki yang membahas tentang tujuh tingkat investor. Beliau merevisi ini dari John Burley seorang investor real estate kawakan yang ia kagumi.


Ini penting untuk diketahui karena dengan mengetahui tujuh tingkat investor ini kita bisa mengidentifikasi berada pada tingkat manakah kita. Sehingga kita tidak merasa terlalu pesimis maupun optimis, melainkan menyadari seperti apakah diri kita, lalu mengambil langkah yang sesuai dengan kemampuan kita.

Sebenarnya mengidentifikasi ini harus bersama dengan identifikasi Cashflow Quadrant, berada di Quadrant manakah kita saat ini. Tetapi sepertinya akan sangat panjang jika membahas Cashflow Quadrant di sini. Mungkin lain kali saya akan membahas Cashflow Quadrant.

Berikut adalah tujuh tingkat investor. Mulai dari tingkat 0 sampai dengan tingkat 6.

Tingkat 0: Mereka yang tidak mempunyai modal untuk diinvestasikan
Tidak punya modal bukan berarti dia seorang miskin yang hanya mempunyai sedikit pendapatan. Orang yang tidak punya modal di sini juga termasuk orang kaya yang menghabiskan seluruh atau melebihi apa yang diperolehnya. Intinya, pada tingkat ini seseorang belum menyadari atau bahkan buta tentang mengelola keuangan, dan buta sama sekali tentang investasi. Ini adalah kebiasaan hidup menghamburkan uang yang mencakup 50 persen populasi orang dewasa.

Tingkat 1: Peminjam
Pada tingkat ini, mereka sedikit melek investasi namun masih tidak tepat. Mereka mengumpulkan aset-aset yang kelihatan menarik padahal aset-aset tersebut mengalami depresiasi seperti mobil, motor, perahu, atau bahkan tas branded puluhan juta. Bukan aset yang mengalami pertumbuhan nilai. Justru itu menjadi beban. Apalagi mereka membeli semua aset itu dengan cara berhutang. Mereka menyelesaikan semua masalah, membeli kebutuhan atau sekedar memuaskan keinginan dengan berhutang. Orang-orang ini terlihat kaya dan dipuji oleh orang yang ada di sekitarnya. Padahal semua yang mereka miliki adalah hutang.

Bukan berarti mereka adalah orang yang berpenghasilan sedikit lalu terpaksa berhutang. Namun memang seperti itu kebiasaan mereka. Mereka senang berhutang untuk membeli barang-barang yang tidak penting. Sebanyak apapun pendapatan mereka, mereka tidak akan merasa cukup karena mereka selalu merasa bahwa mereka akan mampu membayar hutang mereka dan tidak menyadari bahwa hutang mereka sudah menumpuk sekian banyak beserta bunga yang begitu besar. Mereka membeli mobil secara kredit. Dan ketika tidak sanggup membayar, mereka meminjam uang dari Budi untuk membayar cicilan mobil. Lalu mereka meminjam uang dari Tono untuk membayar hutang kepada Budi, Meminjam uang dari Reni untuk membayar hutang kepada Tono. Meminjam uang dari Bank untuk membayar cicilan mobil dan membayar hutang kepada Reni. Begitu seterusnya tanpa habis. Alias gali lubang tutup lubang.

Tingkat 2: Penabung
Orang-orang pada tingkat ini sedikit lebih baik dari tingkat sebelumnya. Atau bisa dibilang mereka kebalikan dari investor Tingkat 1. Mereka lebih memilih untuk membayar kontan daripada harus berhutang. Mereka rajin menyisihkan sebagian pendapatan mereka dalam penyimpanan dengan risiko kecil seperti celengan, rekening bank, atau deposito.


Mereka rutin menabung dan berharap bisa membeli apa yang mereka inginkan di masa depan. Tapi sayangnya tabungan mereka tidak bisa mengalahkan inflasi. Mereka berharap dapat mengumpulkan uang sampai 200 juta untuk membeli mobil 5 atau 10 tahun lagi. Tetapi harga mobil pada 5 atau 10 tahun yang akan datang harganya bukan 200 juta lagi, bisa jadi 300 juta, 400 juta, atau bisa lebih mahal lagi.

Sebagai contoh, di usia 30 tahun. Jika mereka secara rutin menyisihkan uang Rp. 1 juta di tabungan dengan bunga 2,5%. Pada usia 40 tahun uang mereka akan menjadi Rp. 146 juta. Jika mereka menaruh uang tersebut di deposito dengan bunga 6,5%. Maka uang mereka akan menjadi Rp. 179 juta. Tapi, jika mereka menaruh uang tersebut dengan berinvestasi saham atau reksadana dengan imbal hasil rata-rata per tahun 16%. Maka uang mereka akan menjadi Rp. 300 juta.

Namun jika memang tidak tertarik untuk belajar berinvestasi. Memilih untuk menjadi penabung lebih baik daripada menjadi peminjam.

Tingkat 3: Investor "Pandai"
Pada tingkat ini ada tiga jenis investor yang berbeda. Pada umumnya mereka adalah orang-orang pandai yang berpendidikan tinggi. Mereka adalah kelas menengah yang berpenghasilan besar. Dan mereka juga melakukan investasi. Namun ada perbedaan.
  • Tingkat 3-A. Orang ini adalah orang yang tidak mau repot memikirkan uang. Mereka menyerahkan uangnya begitu saja pada program pensiun. Mereka tidak tahu dan tidak ingin mencari tahu. Bekerja keras tiap hari namun tidak mau memikirkan masa depan finansial mereka.
  • Tingkat 3-B. Orang ini adalah orang sinis. Mereka mengetahui bahwa investasi itu berbahaya. Mereka seolah-olah terlihat pintar dalam menjelaskan tentang investasi dan menyebarkan ketakutan kepada orang-orang di sekitarnya. Mereka hanyalah penonton yang hanya membicarakan soal investasi tetapi tidak mau atau terlalu takut ikut bermain langsung. Mereka disebut "babi" oleh pialang professional. Berbicara seolah-olah mereka jenius, setelah menjerit-jerit mereka sendiri lari menghampiri tukang jagal. Mereka menunggu sampai harga sudah terlalu tinggi, lalu menjual dengan panik ketika harga sudah turun drastis. Mereka tahu mengapa investasi tidak bisa berhasil, tetapi tidak tahu bagaimana caranya supaya berhasil.
  • Tingkat 3-C. Orang ini juga disebut "babi" oleh pialang professinal. Bedanya, kalo kelompok sinis terlalu berhati-hati, maka kelompok ini terlalu sembarangan. Mereka menganggap investasi adalah judi. Berinvestasi tanpa aturan dan prinsip. Mereka seolah-olah merasa mereka adalah investor professional dan berpengalaman. Menggunakan segala macam teknik seperti margin, short selling, put, call, option, dan semacamnya. Mereka masuk segala macam sektor dan segala macam jenis investasi. Tidak ingin belajar dan sudah merasa pintar. Mereka bilang bahwa mereka memiliki keuntungan di atas rata-rata. Padahal nyatanya mereka kehilangan uang. Merasa pintar padahal mereka hanyalah penjudi dan kenyataannya mereka malas belajar investasi.

Ada kutipan dari George Bernard Shaw "Hati-hati dengan ilmu yang salah, itu lebih berbahaya daripada kebodohan". Dari 3 jenis investor di tingkat 3 tersebut. Masih lebih baik menjadi kelompok penabung saja. Tetapi jauh lebih baik lagi menjadi kelompok investor tingkat selanjutnya.

Tingkat 4: Investor Jangka Panjang
Nah, di tingkat ini adalah orang-orang yang berbeda dengan tingkat-tingkat sebelumnya. Minimal kita harus masuk kelompok ini. Kelompok ini sadar akan pentingnya berinvestasi. Mereka ingin belajar investasi. Mereka pandai namun tidak sinis dan juga tidak sok pintar. Paham dengan posisi mereka sekarang. Mereka tidak ingin mengambil risiko yang berbahaya dan berfokus pada profesi dan pekerjaan utama mereka.


Pilihan investasinya yaitu pada reksa dana saham, reksa dana campuran, atau reksa dana indeks. Sambil belajar terus menerus, mereka berinvestasi sedikit demi sedikit. Dengan risiko yang kecil namun mendapatkan imbal hasil yang lumayan. Atau bisa juga memulai berinvestasi saham langsung dengan prinsip jangka panjang konservatif dan dengan ketat mengikuti prinsip-prinsip yang diajarkan oleh investor terkemuka seperti Benjamin Graham, Philip Fisher, Peter Lynch, dan Warren Buffett. Yang jelas, jika anda masih di tingkat 0 sampai 3, segeralah masuk ke tingkat ini. Apalagi yang masih muda. Karena jika berinvestasi secara teratur sejak dini, maka dapat dipastikan masa depan akan cerah.

Tingkat 5: Investor Canggih
Saya pribadi masih berusaha naik tingkat menjadi investor canggih. Saya masih berkutat membaca buku-buku investasi dan masih banyak yang harus saya pelajari. Kelompok di tingkat 5 ini sudah menemukan gaya tersendiri dalam berinvestasi. Tidak ragu dalam mengambil keputusan berinvestasi. Mereka adalah pemain lama yang awalnya masuk dalam tingkat 4. Memiliki pengalaman setidaknya 10 tahun. Dan sudah memiliki fondasi keuangan yang kuat serta fondasi ilmu pengetahuan yang juga kuat. Mereka sangat jauh berbeda dengan investor tingkat 0 sampai 3 yang pengeluarannya melebihi pendapatannya. Investor tingkat 5 justru memiliki pendapatan yang jauh lebih besar daripada pengeluarannya, sehingga hasil dari investasi mereka gunakan untuk berinvestasi kembali. Mereka selalu belajar dan selalu membaca setiap hari. Memiliki perencanaan dan strategi yang matang dalam berinvestasi. Secara aktif ikut ambil bagian dalam pengelolaan investasi mereka. Mereka tahu cara membuat uang bekerja untuk mereka.

Tingkat 6: Kapitalis
Ini adalah sebagian kecil orang yang memiliki sebagian besar harta di dunia. Mereka adalah orang-orang yang mengisi daftar teratas orang terkaya di dunia. Kemampuannya dalam mengelola uang dan berinvestasi sudah tidak diragukan lagi. Setiap keputusannya pasti menghasilkan keuntungan besar. Mereka sudah tidak memikirkan uang lagi. Tidak memikirkan uang bukan karena tidak peduli dengan uang, Tetapi karena kebutuhan mereka sudah sangat tercukupi.


Mereka sudah tidak perlu memikirkan diri sendiri dan justru fokus untuk membangun lingkungan sekitarnya. Mereka bukan hanya tahu cara membuat uang bekerja untuk mereka. Justru mereka tidak membutuhkan uang untuk menghasilkan uang. Mereka tetap menciptakan investasi, tetapi bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk membuat orang lain menjadi kaya, menciptakan lapangan pekerjaan, membangun sekolah, rumah sakit, dan berbagai hal lainnya.

Ada pepatah yang berkata "yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin". Dan mungkin ada orang yang sinis dengan orang kaya yang terlihat hidup mewah dan hidup enak. Kelompok ini justru tidak terlihat kaya dan cenderung hidup sederhana. Mereka hidup sederhana karena mereka sangat paham dengan prinsip mengelola keuangan. Karena mereka sudah merasakan bagaimana hidup susah, Sehingga yang mereka lakukan bukan memikirkan diri sendiri, melainkan membangun dan memajukan lingkungannya. Mereka adalah miliyarder dan triliyuner dermawan dan filantropis sejati. Seperti padi yang "semakin berisi, semakin menunduk". Kelompok ini kurang lebih sama seperti itu. Mereka semakin kaya namun semakin rendah hati. Dan semakin memberikan manfaat kepada masyarakat luas.

Itulah tujuh tingkat investor. Silahkan identifikasi diri anda masing-masing ada pada tingkat mana. Saya pribadi merasa kalo saya ada di tingkat 4 dan berusaha menjadi investor tingkat 5. Saya bercita-cita untuk menjadi investor tingkat 6. Dan tentunya saya menghindari untuk menjadi investor tingkat 0 sampai 3.

Sekian tulisan kali ini. Semoga dengan mengetahui tujuh tingkat investor ini dapat membuat kita menyadari diri dan terus menerus belajar hingga bisa menjadi investor sukses.

Semoga sukses dan berkah.

Terima kasih.